Pengumuman Lomba Blog Aqua

Halo teman-teman blogger! Maaf jika pengumuman lomba blog diundur satu hari karena acara penyerahan hadiah yang dilaksanakan oleh Aqua dan kantor berita Antara dihelat hari ini. Penganugerahan ini sendiri diperuntukkan bagi para jurnalis media cetak, jurnalis foto, dan blogger.

Penganugerahan Lomba Karya Tulis & Foto

Berikut 10 nominator lomba blog Aqua dari 190 tulisan lebih yang masuk ke panitia:

  1. Waode Sitti Mudhalifana
  2. Aisha Nindya Kirana & Ahmad Harwin Nugroho
  3. Darma Agung S. I
  4. M. Saddam Nashadaqu
  5. Mohamad Iqbal Arifhan
  6. Norma Gesita
  7. Ni Wayan Rainy Priadarsini S.
  8. Henry Kurniawan
  9. Akhmad Farhan
  10. Sari Yulianti

Setelah penjurian oleh Rudyanto (Blogger senior Dagdigdug), Jafar S (wartawan senior Antaranews.com), dan Heru Hendrayana (Ahli Hidrogeologi dari UGM), maka diputuskan bahwa pemenangnya adalah:

  1. JUARA 1: Aisha Nindya Kirana & Ahmad Harwin Nugroho
    http://www.aishanindyakirana.blogspot.com/2011/12/jejak-jejak-air.html
    –> Total Nilai 565 

    Juara 1

  2. Juara 2: Norma Gesita
    http://nananotechou.multiply.com/journal/item/62/Mulai_hemat_air_dari_sekarang_atau_tidak_mandi_kelak–> Total Nilai 550 

    Juara 2

  3. Juara 3: Waode Sitti Mudhalifana
    http://mudhalifanaharuddin.blogspot.com/2011/12/langkah-kecil-untuk-konservasi-air.html–> Total Nilai 495 

    Juara 3

Para Pemenang

Dua orang nominator asal Jakarta juga datang ke acara ini lho, yaitu Sari Yulianti & Akhmad Farhan.

Sari Yulianti

Akhmad Farhan

Untuk 3 juara utama, kami sudah mengirimkan email sehubungan dengan hadiah. Sedangkan untuk 5 nominator yang tidak datang ke acara ini, mohon kirimkan data diri & alamat lengkap ke email yang sudah kami kirimkan kemarin, untuk mengirimkan souvenir dari Aqua.

Terima kasih untuk semua blogger atas partisipasinya, tunggu program selanjutnya dari kami. Salam lestari!

Dipublikasi di Info Lomba | Tag , | 7 Komentar

Update Info Lomba Blog

Selamat Tahun Baru semuanya! Per tanggal 1 Januari 2012, lomba blog dengan tema “Konservasi Sumber Daya Air di Mata Blogger” telah ditutup. Itu berarti peserta yang mengirimkan tulisan di atas tanggal 1 Januari 2011 pukul 23:59 dianggap gugur.

Para Juri yang terdiri dari blogger senior dagdigdug, jurnalis Antaranews, dan pihak Aqua sedang menilai tulisan-tulisan yang masuk. Pemenang lomba akan diumumkan tanggal 17 Januari 2012 di blog ini juga. Stay tuned!

Dipublikasi di Info Lomba | Tag , | 16 Komentar

Blog Writing Competition

TOPIK LOMBA
“Konservasi Sumber Daya Air di Mata Blogger”

Periode Lomba
1 November 2011 – 1 Januari 2012

Pengumuman Lomba
17 Januari 2012

Syarat Umum Lomba

  • Semua blogger di Indonesia dapat berpartisipasi
  • Peserta adalah mereka yang memiliki blog pribadi, baik hosting gratis dan domain pribadi
  • Tidak ada batasan umur
  • Tertutup bagi jurnalis media cetak & online
  • Meletakkan gambar banner online di bawah ini dalam postingan, dengan link menuju http://lestariairku.dagdigdug.com

Letakkan gambar ini dalam postingan Anda! :)

Kriteria Penjurian

  • Judul, isi, dan nada pemberitaan sejalan dengan tema lomba
  • Tidak mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan)
  • Juri memiliki hak prerogatif untuk menentukan pemenang

Mekanisme Penjurian

  • Proses penjurian berlangsung dari tanggal 1 – 16 Januari 2012
  • Dewan Juri terdiri dari wakil dari blogger senior dari dagdigdug.com, ahli hidrogeologi, dan wartawan senior Antaranews.com
  • Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
  • Jika tulisan sudah dipublikasikan di blog pribadi peserta, peserta mengirimkan beberapa data berikut ke email lombablog@dagdigdug.com dengan subjek Lomba Blog Aqua:
    1. Nama Lengkap
    2. Alamat url blog
    3. Tautan langsung menuju artikel yang dilombakan
    4. Alamat email
    5. Nomor telpon

Hadiah Lomba Penulisan

  • Juara 1: Plakat + piagam + 5 juta
  • Juara 2: Plakat + piagam + 3,5 juta
  • Juara 3: Plakat + piagam + 2 juta
Dipublikasi di Info Lomba | 142 Komentar

Banner Online Lomba Blog

Ini merupakan banner online ketentuan kompetisi menulis blog dengan tema “Konservasi Sumber Daya Air di Mata Blogger”. Silakan disebarluaskan. Terima kasih! :)

Banner Lomba Blog

Dipublikasi di Info Lomba | Tag , | 6 Komentar

Fina Prameswari: Ketika Air Tak Lagi Mengalir

Di musim hujan, air hujan yang jatuh dari langit, membasahi bumi, dan terserap oleh tanah. Sebagian air diserap oleh akar pepohonan, sebagian lagi masuk ke dalam tanah membentuk air tanah. Air tanah inilah yang menjadi sumber bagi mata air yang mengairi sungai yang kemudian berujung di lautan. Dan di musim kemarau, terik matahari membuat air di permukaan sungai, danau, laut, dan samudera berubah wujud menjadi uap air. Uap air ini berkumpul dan membentuk awan-awan. Hingga akhirnya awan-awan itu berubah menjadi tetes air yang kembali membasahi bumi di musim penghujan.
***
Masih ingat secuil materi dari pelajaran IPA waktu kita duduk di bangku sekolah dasar tadi? Ya, semoga kita semua masih mengingatnya. Sebuah siklus yang sederhana, mudah dipahami bahkan oleh anak SD, namun memiliki peran yang luar biasa bagi kehidupan kita.
Siklus air tadi harusnya menyadarkan kita bahwa air tak begitu saja jatuh dari langit, atau mengalir begitu saja dari celah bebatuan di sebuah mata air. Ada sebuah perjalanan panjang dari setiap tetes air, yang kemudian memberi kehidupan bagi kita. Ya, rasanya tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa air adalah sumber kehidupan. Kita semua tentu tidak dapat memungkiri betapa besarnya peran air dalam kehidupan kita. Manusia dapat mengalami gangguan fungsi otak bahkan kematian jika ia tidak mengkonsumsi air dalam jangka waktu tertentu. Tak hanya untuk konsumsi, manusia juga membutuhkan air untuk irigasi, industri, rekreasi, sumber tenaga, dan berbagai kebutuhan lainnya. Intinya, manusia sangat membutuhkan air. Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika tiba-tiba seluruh air di bumi ini menguap begitu saja tak bersisa? Atau bagaimana jika semua air di dunia ini membeku? Perumpamaan ini terlalu berlebihan memang, tentu saja semua itu hanya bisa terjadi jika bumi mengalami kenaikan atau penurunan suhu yang sangat ekstrim.
Dengan peranannya yang begitu luar biasa, lantas apa yang harus kita lakukan dengan air ini? Apa iya kita bebas menggunakan air sebanyak-banyaknya? Bukankah dua pertiga bumi kita ini terdiri dari air? Tentu saja tidak, kita harus ingat perjalanan panjang setiap tetes air tadi. Coba kita hubungkan dengan keadaan bumi sekarang. Tak perlu berpikir terlalu jauh, kita lihat saja di Indonesia tercinta. Berdasarkan kisah setetes air saat kita SD itu, ada dua musim penting, Penghujan dan Kemarau. Masih berdasarkan pelajaran SD, kita juga diajarkan bahwa musim penghujan terjadi di bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau terjadi di bulan April hingga September. Dan sekarang? Tak jelas lagi batas antara penghujan dan kemarau. Tak jarang kita dengar berita kekeringan di berbagai daerah, dan tak sedikit juga berita tentang banjir akibat hujan yang tak berkesudahan.
Kacau? Ya, sepertinya tak hanya negeri ini yang mengalami kekacauan, siklus air pun juga mengalami kekacauan. Tapi kita harus ingat, tiap tetes air itu hanya menjalankan tugas mulia yang Tuhan berikan untuknya. Tugas untuk memberikan kehidupan pada manusia dan makhluk lainnya. Dalam tugasnya itu, ia mengalami sebuah perjalanan yang begitu panjang,  sebuah siklus. Ya, siklus itu adalah kunci utama terlaksananya “tugas mulia” sang air. Siklus yang sederhana, sangat sederhana. Tapi, kita kerap melupakan siklus ini. Sadar atau tidak, kitalah yang merusak siklus ini. Pepohonan yang membantu penyerapan air kini tak lagi ada. Tanah yang merupakan jalan masuk terserapnya air kini telah ditutupi oleh tebalnya aspal dan semen. Mata air yang menghidupi sungai kini “dikuras” habis-habisan. Efek perubahan iklim akibat pemanasan global kini meningkatkan proses penguapan air permukaan. Sungai yang dulu mengalir jernih kini penuh dengan sampah hingga keruh dan tak sanggup lagi menampung air kala penghujan tiba. Hampir setiap tahapan perjalanan air “terganggu” akibat ulah manusia.
Lalu, apa kita akan diam saja dan membiarkan itu semua? Hei, mungkin sebagian dari kita belum merasakan akibatnya. Tapi lihatlah mereka yang mengalami kekeringan, atau mereka yang mengalami musibah banjir. Kalau kita hanya berdiam diri, hanya tinggal menunggu waktu hingga bencana melanda setiap inci dari negeri ini.
Save The Water, Save Life
Ada banyak upaya yang dapat kita perbuat untuk mengembalikan siklus air itu. Tentu saja kita bisa memulainya dari berbagai hal kecil di sekitar kita. Apa saja?
Pertama, kita harus menghemat pemakaian air. Mengapa? Karena dengan menggunakan air secara efektif dan efisien, kita dapat mengembalikan jumlah air ke dalam jumlah yang seimbang. Apa yang dapat kita lakukan untuk menghemat air?
1.   Pastikan tidak ada kran air yang bocor. Tetes-tetes air bocoran itu memang tidak terlihat banyak berarti. Tapi, coba kita kumpulkan tetesan air yang terbuang itu selama sejam, sehari, seminggu, setahun, dan seterusnya.
2.   Matikan air saat tidak dibutuhkan. Terkadang kita membiarkan kran air terbuka saat kita menyikat gigi, mencuci muka, atau melakukan hal lainnya, hingga air mengalir dan terbuang percuma. Terkadang kita juga membuka kran saat membilas sayur, piring, atau pakaian. Saat itu kita sering membiarkan kran terbuka hingga air memenuhi bahkan meluap dari wadahnya.
3.   Tingkatkan daya guna air. Kita bisa menggunakan air bekas mencuci untuk menyiram tanaman, atau yang lainnya.
Beberapa hal di atas hanyalah sebagian hal yang dapat kita lakukan, tentu saja masih banyak hal lain yang harus kita lakukan. Kita harus mengembalikan pepohonan yang membantu penyerapan air, kita harus menyediakan daerah resapan air, kita harus melakukan membersihkan sungai dari sampah-sampah. Kita harus mengambalikan iklim bumi yang telah berubah akibat pemanasan global.
Tak mudah memang. Tapi, apa salahnya kita mencoba. Bukankah lebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapan? Bukankah lebih baik kita melakukan usaha kecil daripada mengeluh ini itu tentang air? Dan tentu saja, akan lebih mudah jika kita melakukannya bersama. Save the water, save the life!! J
*tulisan ini saya persembahkan untuk setiap tetes air yang begitu berharga dan untuk Blog Writing Competition tentang  “Konservasi Sumber Daya Air di Mata Blogger” yang diselenggarakan oleh <http://lestariairku.dagdigdug.com/> J

Dipublikasi di Peserta Lomba | Tinggalkan Komentar

Ega Permana : Konservasi Sumber Daya Air di Mata Saya Sebagai Blogger

Di mata saya sebagai seorang blogger, konservasi sumber daya air merupakan upaya bersama yang harus terus dilakukan, sebagai bentuk tanggung jawab kita terhadap alam yang telah Tuhan titipkan, dan sebagai bentuk cinta kepada anak cucu kita, seperti cintanya para leluhur kepada kita.

Leluhur kita dengan kearifannya menetapkan suatu kawasan tertentu dimana manusia tidak diperbolehkan melakukan aktifitas yang berlebihan di dalamnya. Tidak boleh menjadikan kawasan khusus tersebut sebagai area lahan pertanian, juga melarang keras penebangan pohon dan pengambilan kayu secara sembarang, bahkan menganggap tabu bagi seseorang untuk masuk ke dalam kawasan tersebut. Sanksi moral yang kuat beserta kisah mistis disampaikan para leluhur kepada kita, agar manusia takut dan tidak berani masuk apalagi merusak kawasan tersebut. Hingga kini kawasan-kawasan itu sebagian diantaranya kita kenal dengan sebutan Hutan Larangan.

Hutan larangan di Kampung Naga, Hutan keramat hanya boleh di masuki oleh kuncen ( ketua adat ) dan sesepuh kampung adat, sedangkan hutan terlarang tidak ada yang boleh memasukinya. Sumber gambar dari : http://kebudayaankesenianindonesia.blogspot.com
Kita tahu tidak ada makhluk hidup di bumi yang bisa bertahan hidup tanpa air, dan hutan berperan sebagai pengatur tata air tanah sehingga air tersedia sepanjang tahun, tidak banjir saat musim hujan dan tidak kekeringan saat musim kemarau. Para pemimpin leluhur kita juga memahami sekali hal ini, sehingga upaya menetapkan sebuah kawasan hutan tertentu sebagai kawasan hutan larangan merupakan konservasi yang sengaja mereka lakukan untuk memastikan agar sumber air bagi mereka saat itu dan bagi kita saat ini tetap terjaga.
Sayangnya, kearifan leluhur tersebut kini hampir hilang di gerus zaman. Tidak sedikit kawasan hutan larangan kini beralih fungsi menjadi lahan pertanian, atau dijual kepada pihak asing demi keuntungan pribadi yang sifatnya jangka pendek semata. Akibatnya hutan sebagai bagian penting dari siklus alami air pun rusak. Tidak heran jika banjir dimusim penghujan dan kekeringan dimusim kemarau sering kita alami. Permasalahan menjadi lebih kompleks saat ketersediaan air bersih menipis. Pengetahuan mengenai pentingnya teknik pengelolaan air limbah di masyarakatpun berkembang tidak lebih cepat dibandingkan perkembangan industri yang menghasilkan limbah itu sendiri.

Jika hal ini tidak cepat ditanggulangi, bagaimana nasib kita dan nasib anak cucu kita di masa depan?
Blog writing competition dengan topic “Konservasi Sumber Daya Air di Mata Blogger” yang diselenggarakan Aqua dan DagDigDug.com menjadi kabar gembira dan membuka wawasan serta harapan kita akan masa depan karena ternyata masih banyak kawan blogger yang mengerti dan peduli mengenai pentingya konservasi sumber daya air.

Jika  kita dan jutaan blogger lainnya sebagai pribadi dapat secara sadar dan aktif menanamkan pola hidup yang ramah bagi lingkungan, menghemat penggunaan air, kemudian memastikan keluarga, sahabat dan rekan-rekan kita yang lain melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan, mudah-mudahan aktivitas tersebut dapat membantu  mengatasi persoalan kita ini. Kemudian sebagai blogger, kita juga bisa terus  aktif menulis, misalnya dengan membantu mempublikasikan hasil penelitian atau karya ilmiah mengenai teknologi pengelolaan air bersih dan limbah cair (mohon kunjungi http://www.kelair.bppt.go.id/ ), serta menyampaikan pemahaman kepada sebanyak-banyaknya pembaca blog kita dengan pendekatan rasional bahwa sumber air itu milik bersama dan harus dilestarikan.

Kita semua berharap,  sebagai blogger kita bisa berperan semaksimal mungkin dalam upaya menjaga dan menggunakan sumber daya air yang kita miliki saat ini dengan searif dan sebijak mungkin seperti yang para leluhur jaga dan wariskan kepada kita. Karena kelak kita juga  akan menjadi leluhur bagi anak cucu kita.

Labels:

Dipublikasi di Peserta Lomba | 1 Komentar

Daniel Hermawan: Gerakan Air Bersih (Gerasi) : Pendayagunaan Modal Sosial Sebagai Langkah Aktif dan Progresif dalam Revitalisasi Sumber Daya Air

Gerakan Air Bersih (Gerasi) : Pendayagunaan Modal Sosial Sebagai Langkah Aktif dan Progresif dalam Revitalisasi Sumber Daya Air


Selama masih tersedia air bersih di Bumi, maka masih ada pula kehidupan yang berlangsung di muka Bumi. Ungkapan ini mungkin sangat tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya air bersih dalam menunjang kehidupan makhluk hidup di muka Bumi. Manusia, hewan, dan tumbuhan membutuhkan air bersih untuk menunjang aktivitas dan metabolisme tubuh mereka masing-masing. Tak heran jika air bersih dapat dianalogikan sebagai oksigen yang masih tersedia dan dapat dihirup manusia untuk proses pembakaran energi dalam tubuh. Tanpa air bersih, maka kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup di muka Bumi akan punah, cepat atau lambat.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Lembaga Survei Geologis Amerika Serikat, diketahui bahwa total jumlah kandungan air di Bumi mencapai hampir 326 juta kubik mil. Tak heran jika hampir 72% permukaan Bumi tertutup oleh air. Sayangnya, dari sekian banyak kubik mil ketersediaan air yang ada di Bumi, 97% air yang ada asin dan tidak baik untuk diminum. Dari 3% sisanya, 70% ternyata berbentuk es dan otomatis hanya kurang dari 1% air minum yang ada di dunia yang siap dimanfaatkan secara langsung oleh manusia. Boleh dikatakan jumlah air bersih yang tersedia di muka Bumi ini sangat terbatas dan sangat minim untuk mencukupi kebutuhan 7 miliar penduduk Bumi yang ada di tahun 2012 ini.

Diketahui pula 6 negara yang memiliki 50% persediaan air minum dunia, mulai dari Brazil, Russia, Kanada, Indonesia, China, dan Kolombia. Sementara sepertiga populasi dunia hidup di daerah dengan tingkat persediaan air minum yang minim. Tentu sebagai salah satu negara yang memiliki cadangan persediaan air minum terbanyak di dunia, Indonesia harus berperan aktif dalam upaya konservasi sumber daya air demi kelangsungan kehidupan di muka Bumi. Indonesia harus memberikan dampak berarti bagi lingkungan hidup agar ketersediaan air bersih di dunia dapat terus terjaga dan dinikmati oleh anak cucu kita kelak.

Mungkin tak ada salahnya kita kembali ke masa lalu dan melihat perjalanan waktu yang menunjukkan bahwa kandungan air bersih di dunia semakin menipis. Pada era tahun 1970-an, banyak orang di muka Bumi berpikir air itu adalah salah satu Sumber Daya Alam yang tidak terbatas ketersediaannya. Mereka berpikir air bersih di Bumi itu akan selalu tersedia dan abadi mengalir dari sumber mata air. Akhirnya, terjadinya revolusi industri dan persepsi masyarakat yang salah membuat manusia dengan semena-mena menggunakan Sumber Daya Air yang ada. Tanpa mempedulikan aspek kelestarian lingkungan, dengan membabi buta manusia memakai air dan membuang limbah sembarangan. Akhirnya, Sumber Daya Air yang ada perlahan mulai rusak dan tidak dapat diberdayakan lagi oleh manusia.

Ternyata fenomena ketersediaan air bersih yang semakin menipis ini dilihat Tirto Utomo sebagai sebuah sinyal berbahaya untuk kelangsungan masa depan dunia. Ia berpikir keras ke depan bagaimana caranya menjaga ketersediaan air bersih yang ada untuk diminum oleh umat manusia kelak di era selanjutnya. Akhirnya, dengan pemikiran yang matang dan berorientasi pada masa depan, Tirto Utomo mendirikan PT. Aqua Golden Mississippi (AGM) pada tahun 1973. Ia pun meninggalkan profesinya di Pertamina untuk menggeluti usaha ini.

Awalnya, semua orang mencemooh dan menyindir Tirto sebagai orang yang gila, salah perhitungan, dan tidak cerdas karena menjual air bersih dalam kemasan. Dalam persepsi masyarakat, air bersih pada masa itu cukup dari air tanah dan air PDAM saja. Bukankah air termasuk Sumber Daya Alam yang keberadaannya tidak terbatas di muka Bumi dengan adanya siklus hidrologi? Ternyata masyarakat belum menyadari bahwa memang ketersediaan air di muka Bumi takkan pernah habis, hanya saja kualitasnya akan terus menurun seiring berjalannya waktu.

Dengan perjuangan dan strategi pemasaran yang baik, akhirnya ide untuk mendirikan pabrik air minum pun terbayarkan. Tahun demi tahun berganti dan ternyata begitu banyak sumber mata air yang tidak lagi mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Masyarakat pun akhirnya mulai melirik Aqua sebagai pionir produk air minum kemasan di Indonesia. Pada tahun 1983 atau 10 tahun setelah didirikan, Aqua berhasil mendongkrak penjualan 13 juta liter dengan slogan “air sehat setiap saat”. Terlihat dengan jelas bahwa Aqua menyadari betul bahwa perubahan yang terjadi selama 10 tahun mampu memperlihatkan betapa banyaknya pengurangan debit air bersih di muka Bumi.

Sebagai perusahaan air minum ternama di Indonesia, Aqua tak lantas memberikan pelayanan produk yang sekadarnya saja. Untuk pengontrolan mutu produksi, PT. AGM memiliki laboratorium yang modern dan memiliki staf peneliti yang terdiri dari ahli mikrobiologi, kimia, dan fisika. Aqua telah diterima oleh WHO dan terdaftar di U.S Food and Drug Administration, Environmental Protection Agency dan International Bottled Water Organization. Terlihat dengan jelas keseriusan dan profesionalitas Aqua dalam menjaga kualitas air minum yang dijual ke tangan konsumen agar senantiasa sehat dan aman untuk dikonsumsi langsung dari mata air pegunungan terpercaya.

Melihat komitmen Aqua untuk terus menyediakan mata air terbaik untuk dikonsumsi masyarakat, maka kita pun harus termotivasi dan terpacu untuk melakukan konservasi Sumber Daya Air secara berkelanjutan guna kelangsungan dan ketersediaan air bersih di muka Bumi di masa mendatang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pendayagunaan modal sosial sebagai langkah aktif dan progresif dalam revitalisasi sumber daya air. Diharapkan pendayagunaan modal sosial mampu menjadi sebuah terobosan dan solusi dalam meminimalisir kerusakan Sumber Daya Air yang ada di muka Bumi.

Seperti yang kita ketahui, masyarakat adalah roda penggerak kehidupan bangsa ini. Tanpa masyarakat, bangsa ini sama halnya dengan patung batu yang tidak bergerak untuk menyambut perubahan zaman. Boleh dikatakan masyarakat adalah agent of change yang memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mengubah bangsa ini ke arah yang lebih baik. Maka dari itu, kita harus mendayagunakan masyarakat sebagai poros kekuatan utama bangsa dalam melakukan konservasi Sumber Daya Air di Indonesia.

Degradasi kualitas Sumber Daya Air yang ada di Indonesia dengan cepat dan signifikan sebenarnya terjadi karena ketidaktahuan masyarakat akan edukasi dan pentingnya konservasi Sumber Daya Air demi kehidupan yang berkelanjutan. Memahami hal ini, tentu kita harus melakukan revitalisasi secara moral kultural, yakni dengan memberikan edukasi, seminar, dan pemahaman kepada masyarakat untuk melihat betapa pentingnya air bersih untuk kehidupan anak cucu kita kelak di masa mendatang.

Dalam hal ini, pemerintah dan PT. AGM dapat melakukan sosialisasi air bersih ke masyarakat yang tinggal di dekat sungai untuk menjaga dan melestarikan Sumber Daya Air yang ada. Selama ini, ketidaktahuan masyarakat menjadikan banyak sumber daya air yang ada menjadi sangat keruh, kotor, berbahaya, dan memiliki banyak bibit penyakit. Masyarakat yang ada di pinggir kota memanfaatkan sungai sebagai sarana yang multifungsi, yakni mandi, cuci, dan kakus (MCK) tanpa memperhatikan kebersihan dan kehigienisan air yang ada.

Boleh dikatakan kebiasaan masyarakat yang telah mendarah daging ini membuat banyak masyarakat terjangkit penyakit mematikan, seperti diare, tipus, sakit perut, dan lain sebagainya karena penggunaan air yang tidak steril. Jika dibayangkan, ketika bagian hulu digunakan masyarakat untuk membuang hajat, bagian hilir digunakan masyarakat untuk mencuci pakaian dan alat-alat dapur. Dapat dibayangkan betapa kotornya kandungan air yang digunakan untuk keperluan vital rumah tangga dan kehidupan sehari-hari.

Edukasi dan sosialisasi ini tentu tidak akan berdampak apapun jika tidak diikuti dengan upaya nyata dari masyarakat untuk memulai perubahan ke arah yang lebih baik. Maka dari itu, pendayagunaan modal sosial akan menjadi solusi efektif untuk membiasakan masyarakat bersikap peduli terhadap lingkungan hidup yang ada. Salah satu bentuk pendayagunaan modal sosial itu dapat dilakukan dengan mendirikan Gerakan Air Bersih (Gerasi). Diharapkan gerakan ini mampu mengakomodasi dan menstimulasi masyarakat untuk ikut serta dalam upaya konservasi Sumber Daya Air di Indonesia.

Gerakan Air Bersih (Gerasi) sendiri dapat diimplementasikan oleh masyarakat dengan dukungan dari pemerintah dan PT. AGM. Pemerintah dapat membantu mewujudkan program kerja Gerasi secara holistik dan PT. AGM dapat membantu Gerasi dalam edukasi kandungan air bersih yang dibutuhkan secara profesional. Gerasi ini sendiri dibentuk di setiap daerah yang memiliki Sumber Daya Air yang vital dan berada dalam kondisi rawan. Dalam hal ini, pemerintah menunjuk perwakilan masyarakat untuk mengoordinasi gerakan ini agar berdampak efektif bagi upaya konservasi air bersih di Indonesia.

Perwakilan masyarakat yang terpilih tentunya akan diakomodasi oleh pemerintah untuk melakukan aksi lingkungan berarti yang ditujukan untuk menyelamatkan dan konservasi Sumber Daya Air yang dibutuhkan. Langkah Gerasi ini tentu akan sangat efektif mengingat program ini bersifat kemasyarakatan dengan warga sekitar sebagai koordinator pelaksana Gerasi di setiap daerah. Masyarakat akan jauh lebih percaya dan proaktif dengan wakil masyarakat yang mereka kenal untuk bersama-sama melakukan Gerasi demi perubahan masa depan yang lebih baik dibandingkan pemerintah berkoar-koar menghimbau masyarakat untuk ikut serta dalam konservasi Sumber Daya Air.

Gerasi sendiri dapat diimplementasikan secara nasional dengan kantor pusat yang berada di ibukota. Setiap bulan secara berkala, perwakilan daerah terpilih harus melaporkan apa saja bukti nyata dari aksi yang sudah mereka lakukan. Perwakilan daerah tentu akan mampu memberikan edukasi yang baik secara efektif karena mereka bagian dari masyarakat di daerah tersebut. Masyarakat pun akan mengikuti langkah mereka dengan tidak melakukan MCK secara sembarangan di sungai, membangun sarana sanitasi yang baik, melarang pabrik atau pihak perusahaan yang ada di daerah mereka untuk membuang limbah dengan sembarangan, dan lain sebagainya. Langkah-langkah nyata inilah yang dilaporkan dan diberikan apresiasi oleh pemerintah dengan pemberian fasilitas tertentu yang dapat menyejahterakan masyarakat.

Tentu Gerasi ini tidak akan berlangsung efektif tanpa dukungan dari pemerintah. Pemerintah harus memberikan regulasi Sumber Daya Air yang tegas pada pihak perusahaan atau pabrik tertentu yang membuang limbah sembarangan ke sungai. Ketika setiap pabrik sudah mengolah dan membuang limbah secara bijak, maka Gerasi akan mampu melakukan aksinya secara efektif dengan pola edukasi dan langkah-langkah konservasi yang cerdas dari pihak PT. AGM. Pemerintah pun bisa memberikan perlombaan bagi setiap Gerasi di daerah-daerah agar mampu berkompetisi untuk menjadikan Sumber Daya Air di daerah mereka lebih baik dari sebelumnya.

Ketika potensi masyarakat dengan pendayagunaan modal sosial ini mampu diberdayakan secara efektif, maka upaya konservasi Sumber Daya Air bukanlah utopia belaka. Pemerintah dan masyarakat mampu berkolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, sekaligus memiliki ketersediaan air bersih yang baik. Tak hanya itu, cadangan air dalam air tanah, pohon, sumber mata air, sungai, dan lain sebagainya pun terjaga karena setiap anggota masyarakat merasa memiliki Sumber Daya Air tersebut dan akan menjaganya dengan sebaik-baiknya demi kelangsungan kehidupan di masa mendatang.

Diharapkan implementasi Gerakan Air Bersih (Gerasi) ini mampu menjadi sebuah langkah perubahan berarti bagi konservasi Sumber Daya Air secara aktif dan berkesinambungan. Revitalisasi Sumber Daya Air pun menjadi sebuah tuntutan moral, bukan lagi kewajiban yang bersifat menekan. Selamat melakukan perubahan berarti dengan Gerasi!

Referensi:
- http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2011/07/24/sejarah-aqua/
- http://futurenow.dw-world.de/indonesia/2011/02/07/bakteri-arsenik/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Air

Postingan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Aqua dengan link http://lestariairku.dagdigdug.com.

Dipublikasi di Peserta Lomba | Tinggalkan Komentar

Setia Rahmah : Air, Sumber Kehidupan Manusia (Yuk, kita jaga bersama)

_Bismillahirrohmanirrohiim_

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu..


Konservasi…??? mungkin kata ini sudah tidak asing terdengar di telinga kita. Namun tidak menutup kemungkinan masih banyak orang awam yang belum mengerti tentang istilah konservasi ini. Seperti halnya ibu-ibu rumah tangga yang hanya berkutat di dapur :) . Namun, ini hanya masalah pemahaman istilah, pada hakikatnya semua masyarakat mengetahui makna dari konservasi itu sendiri.

Lalu, apa arti konservasi itu sendiri..??
Secara sederhana konservasi dapat diartikan sebagai upaya  mencegah kerusakan atau dengan kata lain sebagai bentuk perlindungan. Karena berkenaan dengan hal ini adalah konservasi sumber daya air, maka yang menjadi objek perlindungan adalah air. Ya, Air. Sumber kehidupan makhluk dimuka bumi. Betul begitu..?? Kita tidak bisa pungkiri itu. Bahkan sepertiga permukaan bumi terdiri atas air (laut).

Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah yang bertujuan untuk mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang berdampak buruk bagi masyarakat dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau seperti saat ini yang belum lama kita rasakan. Oleh karena itu, konservasi air mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konservasi tanah.

Seperti yang telah kita ketahui, banyak cara yang dapat kita lakukan dalam rangka melindungi sumber daya air. Contoh kecilnya saja tidak membuang sampah sembarangan (sungai, got, selokan), menghemat penggunaan air dan lain-lain. Saya yakin secara teori seluruh masyarakat sudah mengetahui hal ini, namun untuk implementasi dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari jauh panggang dari api. Pun begitu tidak menjadikan kita pesimis atau putus semangat dalam mengoptimalkan konservasi sumber daya air.

Dalam postingan ini, saya hanya ingin berbagi tentang fenomena yang saya ambil dari setiap perjalanan tentang sebuah potret dari konservasi sumber daya air. Dari sekian banyaknya kasus pengrusakan sumber daya air yang terjadi, ternyata disisi lain masih banyak orang-orang yang peduli terhadap kondisi air yang sangat penting untuk keberlangsungan ummat manusia. Merekalah orang-orang yang tak tersentuh. Pada hakikatnya, mereka menyadari akan ‘rahasia kebaikan air’ itu sendiri untuk kehidupan. Karena dibagian bumi lainnya masih banyak orang-orang yang kekurangan dengan asupan air bersih. :’(

Seorang bapak paruh baya tengah membersihkan saluran air sungai(selokan) dari sampah yang menghambat jalannya aliran air.

Berikut ini adalah danau yang terletak dalam kawasan pendidikan (Perguruan Tinggi). Digunakan sebagai tempat penampungan air yang juga dijadikan sebagai tempat penelitian para mahasiswa.

Renovasi bendungan air sungai sebagai bentuk menjaga tata letak aliran air. Sebagai bagian dari konservasi sumber daya air untuk menghindari terjadinya kondisi air yang meluap.

Danau yang dijadikan sebagai tempat penampungan air hujan. Selain itu dijadikan sebagi tempat wisata dan tempat berlibur (sebagai ajang silaturahim). Rahasia kebaikan air.. :)

Pembuatan danau buatan di tengah-tenganh pemukiman penduduk. Masyarakat setempat bekerjasama dengan pemerintah setempat sebagai salah satu bentuk konservasi terhadap sumber daya air.

Bendungan pada danau untuk mengatur debit air. Juga mencegah terjadinya banjir di daerah hilir, kawasan pemukiman padat penduduk.

Anak sekolah (siswa) pun turut serta dalam rangka menjaga kondisi lingkungan khususnya dalam hubungannya konservasi air dengan konservasi tanah.

Demikianlah bagian dari potret konservasi sumber daya air yang ‘terjepret kamera’ ala SETIA.
Yuk, bersama-sama kita jaga sumber daya air kita mulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil dan mulai detik ini juga. Selalu ada rahasia kebaikan dari setiap sumber daya air. :)

Salam konservasi,,, salam lestari…!!! ^_^

Dipublikasi di Peserta Lomba | Tinggalkan Komentar

Phisca Aditya R: Rain Harvesting, Sebuah Upaya Solutif Konservasi Air di Bumi

Bumi, beserta atmosfer dan lautannya, beserta biosfernya yang rumit, beserta kerak yang terbentuk dari bekuan batuan metamorfik berlapis-lapis, yang relatif teroksidasi, kaya akan silika, dan menyelimuti [lapisan dan inti yang terdiri dari magnesium silikat] biji besi, beserta puncak salju, gurun pasir, hutan, padang lumut, rimba belantara, padang rumput, danau air tawar, padang batubara, kantong minyak, gunung api, lubang lahar, pabrik, mobil, tanaman, binatang, medan magnet, ionosfer, pegunungan di tengah laut, lapisan penyangga merupakan sistem dengan kerumitan mencengangkan.
(J. S. Lewis, Ahli Geologi dari Amerika)
 

Kondisi yang telah digambarkan oleh seorang Ahli Geologi dari Amerika J.S. Lewis merefleksikan bahwa terdapat sistem yang sangat hebat diciptakan dan diatur oleh Tuhan di Bumi ini. Sehingga bumi memiliki kekhasan tersendiri yakni memungkinkan adanya nafas-nafas kehidupan di sana. Bumi menyediakan berbagai fasilitas kehidupan sehingga makhluk hidup termasuk manusia bisa menyinggahinya dengan nyaman. Beberapa faktor kehidupan yang tersedia di bumi antara lain tersediannya oksigen, Angin bergerak dengan teratur, siklus air berjalan dengan baik, tanaman tumbuh subur  pada lapisan tanah. Oleh karena itu dengan berbagai faktor kehidupan dan sistem itu, Bumi telah terbukti bisa menjadi tempat singgah yang kondusif secara alamiah untuk makhluk hidup termasuk kita sebagai manusia.
Komposisi secara garis besar, lapisan Bumi sekitar 29% terdiri dari daratan.  Sedangkan untuk 71% luas permukaan bumi diselimuti oleh air. Akan tetapi, dari Jumlah air tersebut, tidak semua dapat digunakan. Hal ini karena volume total air di dunia yang sekitar 1.4 milliar km3, volume air tawarnya hanya 2.5 % dari volume total air dunia itu atau setara dengan 35 juta km3. Tetapi hanya kurang dari 1 % saja yang dapat digunakan oleh manusia serta ekosistem di muka bumi. Sedangkan permintaan pasokan air untuk seluruh dunia tentu sangat besar. Ini menjadi sebuah permasalahan yang sangat urgensi terkait air merupakan kebutuhan pokok makhluk hidup. Belum lagi saat ini seringkali kita mendengar berita tentang krisis air yang mulai terjadi di beberapa tempat.  Padahal air sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok kita seperti untuk minum, mandi, mencuci dan masih banyak lagi. Ironinya disaat musim penghujan, banjir juga sering terjadi dimana-mana. Namun di saat musim kemarau ada beberapa daerah yang benar-benar krisis air seperti yang telah dikatakan sebelumnya. Berangkat dari permasalahan ini perlu adanya sebuah terobosan baru untuk bisa menjaga dan melestarikan minimnya air yang ada di bumi kita agar bisa dimanfaatkan secara optimal. Kemudian juga untuk melestarikan dan menjaga eksistensi air di bumi ini.Dalam kesempatan kali ini saya sebagai seorang blogger yang berkecimpung di dunia jurnalistrik menawarkan sebuah terobosan dalam upaya  konservasi air di bumi yang kita singgahi ini. Solusi ini adalah dengan memanen air hujan atau lebih dikenal dengan upaya Rain Harvesting. Mengingat kondisi curah hujan khususnya di Indonesia yang termasuk tinggi. Ngiras pantes (sekalian) untuk menanggulangi pasokan air yang melimpah disaat hujan tentu bisa dilakukan sebuah upaya memanen air hujan ini. Dalam artian, kita menyimpan pasokan air hujan ini ke dalam lumbung air. Kemudian disaat lumbung tersebut penuh maka air akan dialirkan ke sumur resapan yang kita siapkan dalam tanah sehingga air hujan tidak langsung hanyut membanjiri lingkungan sekitar. Namun air akan tersimpan di dalam lumbung/sumur serapan tersebut yang suatu saat mungkin akan sangat bermanfaat kegunaan simpanan air tersebut. Memanen air hujan dengan sumur resapan dapat menanggulangi banjir cukup signifikan, kata Kepala Bidang Teknologi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr Arie Herlambang.
Program Rain Harvesting ini cocok digunakan di kawasan perkotaan yang hanya memiliki permukaan serap air terbatas. Sebenarnya prinsip yang digunakan hanyalah sederhana yaitu memanfaatkan air hujan dengan menyimpannya. Dalam pemanfaatannya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya digunakan lumbung air sebagai penampung pertama dan digunakan sumur serapan sebagai penampung kedua. Disaat penampung pertama sudah penuh maka air akan dialirkan ke penampung kedua. Penampung pertama/ lumbung air ini terpasang diluar sehingga air yang tertampung bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan jangka pendek kita seperti untuk minum, mandi, mencuci dan lain sebagainya. Sedangkan untuk sumur resapan sebagai penampung untuk kebutuhan jangka panjang. Namun ada pula teknik rain harvesting yang langsung mengalirkan air di sumur serapan/tanah yang bisa menyerap air. Adapun teknik yang bisa digunakan cukup variatif, berikut adalah beberapa teknik-teknik yang menggunakan prinsip rain harvesting :
1.   1. Membuat Grass Block
contoh grassblock
Teknik ini sangatlah umum dikenal dimasyarakat luas. Sebuah solusi alternatif jika kita ingin mengecor halaman kosong kita. Jelas jika hanya dicor dengan semen maka tidak akan menyisakan ruang resap jika suatu saat terjadi hujan. Grass block yang berbentuk semacam cincin dengan berbagai pilihan berapa sisi  Grass Block ini sering digunakan pada kawasan untuk parkir kendaraan. Namun sebenarnya pemanfaatan grass block atau semacam con block sudah saatnya direalisasikan di beberapak kampus yang mengusulkan.
2.       2. Membuat “Tadhah talang”
Teknis Tadhah Talang
Tadhah artinya tempat penampungan, talang adalah saluran air pada atap rumah. Tadhah Talang adalah konsep rain harvesting dengan membuat parit di sekeliling rumah, terutama di titik-titik dimana talang (saluran air di atap) menumpahkan aliran airnya. Dengan begitu air yang terkumpul dari atap rumah akan ter manajemen untuk disatukan dalam sistem tadhah talang tersebut yang nanti bermuara pada sebuah penampungan air. Kemudian jika penampung air tersebut sudah penuh maka air dialirkan menuju sumur seraan. Sehingga limpahan air tersebut tetap bisa terinfiltrasikan ke dalam sumur resapan tersebut.
3.       3. Membuat Danau Buatan
Danau Buatan
Jika ternyata kondisi memungkinkan untuk dibuat danau buatan dengan artian kawasannya memang cukup luas maka akan sangat memungkinkan untuk dibuat Danau Buatan. Danau ini dibuat untuk bisa menampung air secara terbuka dan memang lebih simpel alurnya, yakni air hujan turun langsung memenuhi danau buatan tersebut. Ini sangat solutif untuk kawasan yang non-produktif ataupun tidak menghasilkan produk apapun. Daripada tidak dimanfaatkan alangkah lebih baik jika digunakan sebagai penampung air hujan dalam skala besar sebagai danau buatan. Selain mengurangi banjir bisa  juga sebagai sarana penyimpanan air secara massal.
Demikian beberapa contoh teknik Rain Harvesting yang bisa dimanfaatkan untuk memanfaatkan air hujan yang sangat melimpah dan potensial di kawasan Indonesia khususnya. Sehingga selain kita bisa meminimalisir adanya banjir kita juga bisa memanfaatkan potensi air hujan ini sebagai cadangan disaat musim kemarau tiba. Akhirnya upaya konservasi atau pelestarian air akan terealisasi dengan efektif dan berdayaguna. Semoga tulisan ini bisa memantik sebuah semangat untuk kita semuaakan pentingnya untuk menjaga eksistensi air di muka bumi ini.
Referensi gambar : probohindarto.wordpress.com

dusksummerpirates.blogspot.com

* Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog bertajuk  “Konservasi Sumber Daya Air di Mata Blogger”

Dipublikasi di Peserta Lomba | Tinggalkan Komentar

Sari Yulianti : S.U.S Untuk Konservasi Air di Wilayah Pesisir Indonesia


“Kalau musim kemarau airnya asin,” ujar seorang ibu saat saya berkunjung ke salah satu desa di pesisir Gorontalo Utara beberapa waktu lalu. Berkesempatan terlibat dalam sebuah proyek pengadaan air bersih yang diadakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberi kesadaran tersendiri betapa ketersediaan air bersih begitu langka di wilayah pesisir.

Apa yang akan kita lakukan jika ingin memasak air? Buka kran, masukkan air yang mengalir ke dalam teko, kemudian tunggu hingga air mendidih. Lalu bagaimana jika ingin mandi? Buka kran, isi bak mandi, dan biarkan air tertampung hingga penuh. Pun jika ingin mengambil air untuk kebutuhan lainnya. Cukup buka kran dan air akan keluar dari ujung kran tersebut.

Hidup di kota dengan segala kemudahan yang diberikan, termasuk kehadiran Perusahaan Air Minum (PAM) tentu membuat kita “lupa” untuk melakukan penghematan-penghematan. Semakin berkurangnya jumlah pohon membawa dampak pada berkurangnya air yang tersimpan di dalam tanah. Eksploitasi air di kota-kota besar juga semakin mengurangi ketersedian air yang sudah menipis. Krisis air kemudian menjadi ancaman yang mengerikan mengingat begitu bergantungnya kita pada sumber daya tersebut.

Nyatanya, tak perlu menunggu tahun-tahun ke depan yang dikhawatirkan akan mengalami krisis air. Jauh di pesisir Indonesia, terdapat begitu banyak daerah yang mengalami krisis air bersih. Lokasi dekat pantai tentu menjadi hambatan utama untuk memperoleh air tawar yang bersih, jernih, dan tak berbau.

Meski PAM sudah dapat menjangkau beberapa wilayah pesisir, namun minimnya pasokan listrik menjadi masalah lain yang harus dipecahkan. Mati lampu yang kerap terjadi membuat ketersediaan air bersih oleh PAM terhenti. Masyarakat kemudian kembali harus menggunakan air dalam sumur dengan tingkat salinitas tinggi. Beruntung jika musim penghujan datang. Air di dalam sumur akan berkurang kadar garamnya karena telah bercampur dengan air hujan.

sumur air payau milik bersama yang sering dipakai untuk kegiatan mencuci dan mandi

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Konservasi atau upaya pelestarian air pada akhirnya bukan sekadar upaya menghemat air yang tersedia saat ini. Konservasi tentu memiliki makna yang jauh lebih luas namun tetap mencakup aspek nyata yang dapat dilakukan siapa saja. Setidaknya, terdapat tiga aspek dalam suatu upaya konservasi, yaitu save, use, dan study (S.U.S).

Dalam upaya pelestarian air di wilayah pesisir, aspek save (perlindungan) berarti mengelola air dan membuat kebijakan-kebijakan terkait pelestarian dan pengadaan air sebagai sumber kehidupan. Aspek use (pemanfaatan) dilakukan dengan cara menggunakan air secukupnya, menghemat penggunaannya. Dan aspek study (penelitian/kajian) bukan hanya melakukan penelitian tentang kelayakan air untuk dimanfaatkan atau inovasi-inovasi yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air tetapi juga memberikan informasi seluas-luasnya mengenai tantangan krisis air dan strategi untuk menghadapinya.

“Save, Use, Study”. Ketiga aspek itu tentulah berkaitan satu dengan yang lain. Akan terasa kurang optimal jika ada salah satu aspek yang tak dijalankan. Semua saling terkait. Dan kita dapat menjadi bagian dari terwujudnya upaya pelestarian air di daerah pesisir tersebut. Kita dapat mendukung program pemerintah yang berupaya melakukan pengadaan air bersih di daerah-daerah pesisir yang minim air dan sebagian besar dihuni oleh penduduk miskin.

Upaya penghematan air juga tak hanya dibebankan pada daerah yang mengalami krisis air. Kita pun yang mungkin saat ini masih merasa ketersediaan air begitu melimpah perlu melakukan upaya penghematan air sejak dini. Menggunakan air secukupnya. Tak membiarkan tetes-tetes air terbuang sia-sia di kran rumah dan lingkungan sekitar kita merupakan langkah kecil untuk melakukan penghematan air.

Dan jika hal tersebut masih sulit untuk diterapkan, maka hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah dengan menulis. Menulis tentang kepedulian kita akan air sebagai sumber kehidupan yang perlu dilestarikan. Hal ini tentu menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan terkait aspek study yang diharapkan dapat mendukung konservasi air. Mudah, kan? ^_^

***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Writing Competition:
Konservasi Sumber Daya Air di Mata Blogger

foto: koleksi pribadi (diambil di Desa Imana, Gorontalo Utara)

Dipublikasi di Peserta Lomba | Tinggalkan Komentar

Kholil Aziz: AMDK Jangan Eksploitasi Sumber Mata Air

Untuk Info Selengkapnya Klik Disini
Kita sepakat bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada air. Kehadirannya menjamin kehidupan dan pertumbuhan manusia dan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Ketiadaannya menjadi pertanda bagi kematian dan kehancuran. Air adalah suatu realitas tak terbantahkan dalam keberlangsungan hidup kita.

Air mempunyai siklus perputaran sendiri yang berada di luar nalar kita. Hujan yang turun untuk semua orang, baik kaya maupun miskin, mengingatkan kita bahwa penciptaan adalah sebentuk karunia yang dipercayakan kepada kita untuk dijaga. Bukan milik perorangan atau atau milik suatu perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) tertentu. Air dalah hadiah gratis dari Tuhan demi kebaikan bersama.

Tapi kenyataannya sekarang berbanding terbalik dengan realita yang ada, air bersih seakan menjadi paten perusahaan AMDK yang seenaknya mengeksploitasi sumber mata air di pegunungan. Seperti kasus eksploitasi air bersih oleh perusahaan AMDK yang terjadi di Cianjur, catatan dari Balai Konservasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Pertambangan dan Energi Wilayah Pelayanan I Cianjur, bahwa perusahaan-perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) itu mengambil air tanah dalam sebanyak 449.141 meter kubik per bulan atau 5,389 juta meter kubik per tahun.

Yang lebih parah lagi, ketika musim kemarau tiba perusahaan AMDK semakin menggila merampas sumber penghidupan masyarakat Cianjur, karena semakin banyaknya permintaan konsumen. Pasalnya, pengambilan air pada musim kemarau semakin meningkat sesuai permintaan pasar.

Dampak eksploitasi air bersih AMDK ternyata tidak hanya berdampak buruk pada keringnya sumber mata air. AMDK juga banyak menyumbang terhadap pengrusakan alam di pegunungan. Selain itu juga semakin menipisnya lahan mata pencaharian masyarakat kecil dengan cara alih fungsi lahan secara besar oleh AMDK.

Ini (telah) benar-benar dirasakan oleh masyarakat desa Caringin, Kabupaten Sukabumi. Lima perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang terdapat di desa Caringin telah banyak “merampas” sawah milik warga desa Caringin, demi kebutuhan untuk mempertahankan kelangsungan keberadaan sumber air, sekaligus untuk memperluas skala usahanya di masa depan.

Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional akhir tahun 2010, kebutuhan pihak perusahaan-perusahaan AMDK tersebut telah mendorong terjadinya pembelian lahan sawah milik warga desa Caringin. Hal ini berpotensi mendorong terjadinya alih fungsi lahan secara besar, yaitu total seluas 5,5 ha. (Endang Indirati, 23/12/10).

Pada awalnya air yang dieksploitasi adalah air permukaan. Tapi stelah itu eksploitasi terhadap sumber mata air akan merambat (dilakukan pengeboran) ke jalur air bawah tanah dilakukan menggunakan mesin bor tekanan tinggi. Sudah pasti, kualitas dan kuantitas sumberdaya air di wilayah itu akan menurun drastis, dan pada akhirnya akan mengalami kekeringan secara totol.

Kekeringan ini akan melanda dimana saja, dimana perusahaan AMDK berada. Hal ini bisa kita buktikan berdasarkan kasus di desa Caringin, yang menurut sebuah studi tentang sumber daya air tanah yang dilakukan oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Departemen Energi dan Sumber daya Mineral pada tahun 1998, ternyata debit sumber air yang dieksploitasi oleh salah satu perusahaan AMDK di desa Caringin tersebut, mencapai 200 liter per detik.

Bisa kita banyangkan betapa kejamnya perusahaan AMDK tak bertanggung jawab ini terhadap keberlangsungan hidup masyarakat di suatu desa tersebut, dan keberlangsungan hidup manusia di muka bumi ini pada umumnya. Sementara kebutuhan air bersih, baik di Jakarta maupun di Jawa Timur, semakin hari semakin tinggi. Seperti di Jakarta, menurut Prof. Ir. Joni Hermana, MscES, Ph.D (dekan fakultas teknik sipil dan perencanaan, ITS), bahwa di ibu kota negara itu hanya mampun menyediakan air 2,2% di antara total populasi yang mencapai 8,8 juta orang. Sisanya, 97% memanfaatkan air tanah yang seharusnya tidak boleh karena bisa membuat tanah ambles.

Di Pulau Jawa, masih menurut Prof. Ir. Joni Hermana, MscES, Ph.D, sumber mata air semakin menipis. Sementara kebutuhan air bersih setiap penduduk Jawa rata-rata 4.500 meter kubik per tahun. Tapi yang terdipenuhi (karena saking banyaknya penduduk Jawa) hanya 1.700 meter kubik per orang per tahun. Dari perbandingan data tersebut, bisa dikatakan bahwa Pulau Jawa mengalami krisis air, karena supply dan demand tak seimbang. (Jawa Pos, 22/12/10).

Manusia tidak memiliki alternatif terhap air. Oleh Karena itu, penyediaan barang-barang pokok dengan tetap melestarikan hutan kita menjadi harga mati. Selain itu, masyarakat harus bersatu padu untuk tidak membiarkan begitu saja kepada kekuatan-kekuatan pasar AMDK.

Air tidak dapat diperlakukan sebagai sekadar komoditas di antara pelbagai komoditas yang lain. Dan seharusnya perusahaan AMDK menyadari hal itu, menyadari bahwa betapa penting mempertahankan dan memelihara harta milik umum seperti, sumber mata air, alam lingkungan, dan lingkungan manusia.

Karena bagi banyak orang, air tidak dapat dipikirkan sebagai sebuah “komoditas” semata yang harus dibeli dan dijual. Air itu berlandas pada kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang tidak terjangkau logika pasar.

Dipublikasi di Peserta Lomba | Tinggalkan Komentar

Kirana Khanifa: 3 Program untuk Konservasi Sumber Daya Air

Bismillah..
Seorang awam yang mengaku senang menulis di blog akan mencoba menulis tentang konservasi Sumber Daya Air.^_^

http://lestariairku.dagdigdug.com

Dalam benak saya, konservasi Sumber Daya Air adalah usaha-usaha yang dapat kita lakukan untuk melindungi Sumber Daya Air. Agar tidak terlalu ngawur, saya pun mencari-cari referensi. Akhirnya, saya perolehlah definisi konservasi Sumber Daya Air dari slide kuliah Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang disusun oleh Ir. Eddy S. Soedjono, Dipl.SE., MSc., PhD. dan Alia Damayanti, ST, MT, PhD. Dalam slide beliau, disebutkan bahwa

“Konservasi Sumber Daya Air adalah upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan, sifat, dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup, baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang.”

Adapun yang disebut sebagai Sumber Daya Air menurut Undang-Undang (UU) no. 7 tahun 2004 Pasal 1 Butir 1 adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya. Sedangkan pada butir 2 dari pasal yang sama, disebutkan bahwa air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di dalam permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat. Masih di pasal yang sama, pada butir 3 hingga 7, disebutkan macam-macam air, definisi daya air, dan pengelolaannya. Pada butir 7 dinyatakan bahwa konservasi air merupakan salah satu dari pengelolaan air.

Yak, itulah beberapa isi butir dari UU no. 7 tahun 2004. Masih banyak butir di dalam pasal tersebut yang membahas tentang air. Jika tertarik, silakan menelaah sendiri. ^_^ Sekarang, mari kita berbicara tentang konservasi Sumber Daya Air dalam sudut pandang saya.

Terdapat banyak teknik yang bisa digunakan untuk melakukan konservasi Sumber Daya Air. Di antara yang sudah kita kenal adalah teknik embung, sumur resapan, usahatani hemat air, penataan pembangunan, dan lain-lain. Apapun tekniknya, diperlukan peran seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan konservasi Sumber Daya Air. Walaupun dalam Undang-Undang Dasar dinyatakan bahwa air dikuasai oleh negara, hal ini tidak menafikkan pentingnya peran masyarakat untuk berpartisipasi dalam konservasi Sumber Daya Air.

Idealnya, untuk berpartisipasi dalam konservasi Sumber Daya Air, masyarakat dalam keseharian harus melakukan aktivitas-aktivitas yang hemat air, menunjang penghijauan dan peresapan air, meminimalisasi bahkan menolkan sampah rumah tangga, mengoptimalkan fungsi air bersih maupun kotor, dan sebagainya. Contoh nyata anggota masyarakat yang bisa seideal ini adalah Bapak Sobirin yang tinggal di Jl. Alfa No. 92, Cigadung, Bandung. Untuk mengetahui dan meniru apa saja yang dilakukan oleh Pak Sobirin, silakan mengunjungi blog beliau di http://clearwaste.blogspot.com/.

Kenyataannya, tidak setiap orang bisa atau mau menjadi seperti Pak Sobirin. Oleh karena itulah diperlukan lembaga-lembaga yang concern di konservasi Sumber Daya Air. Lembaga-lembaga ini bisa berasal dari lembaga pemerintahan maupun lembaga masyarakat yang peduli dengan konservasi Sumber Daya Air. Mereka memiliki program-program yang terpadu untuk melaksanakan konservasi. Selanjutnya, segenap anggota masyarakat berpartisipasi dalam program-program tersebut dan turut menyumbang ide.

Sebagai blogger yang ingin menyumbang ide praktis, saya mengusulkan 3 hal berikut:

1.Kompetisi Teknologi Tepat Guna untuk Konservasi Sumber Daya Air

Masyarakat, terutama mahasiswa, sangat menyukai hal-hal yang berbau kompetisi berhadiah (ini adalah pendapat pribadi saya dengan melihat lingkungan saya, saya belum melakukan penelitian resmi tentang hal tersebut). Minat ini bisa dimanfaatkan, misalnya dengan membuat kompetisi membuat alat atau software yang bisa bermanfaat untuk konservasi Sumber Daya Air. Hasil karya dari kompetisi ini tentu akan dapat sangat bermanfaat untuk diaplikasikan dalam konservasi Sumber Daya Air. Banyak kreativitas masyarakat yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh lembaga formal namun ternyata dapat dibuat dan diaplikasikan. Contoh kongkrit dari kreativitas ini dapat kita lihat pada Pekan Kreativitas Mahasiswa.

Terdapat keuntungan yang timbal balik antara lembaga konservasi Sumber Daya Air dengan masyarakat dengan kompetisi ini. Pihak lembaga dapat menghemat biaya riset dan langsung memperoleh produk akhir yang bisa diaplikasikan. Adapun masyarakat dapat lebih terpacu untuk kreatif menciptakan produk.

2.Merangkul Komunitas Blogger untuk Menyelenggarakan Kegiatan dalam Rangka Konservasi sumber Daya Air

Tak diragukan lagi bahwa blogger adalah anggota masyarakat yang cukup berpengaruh. Mereka dapat menuliskan dan mempublikasikan apa yang dipikirkannnya tanpa sensor dan editing dari pihak luar. Blogger dalam jumlah banyak seringkali membentuk suatu komunitas blogger yang menghubungkan satu link dengan link yang lain. Bayangkan jika komunitas ini diberdayakan untuk mengangkat suatu tema bersama-sama, tentu efeknya lebih terasa.

Kegiatan nyata yang bisa kita lakukan dengan merangkul komunitas blogger misalnya dengan melakukan kegiatan penghijauan, pembangunan instalasi air bersih, atau kegiatan konservasi Sumber Daya Air yang lain. Hal ini seperti yang pernah dilakukan oleh Aqua bersama Pondok Pesantren Al-Amin di Gunung Salak. Jika kita melakukan hal tersebut dengan komunitas blogger, bersamaan dengan itu, blogger dapat menuliskan berbagai hal berhubungan dengan kegiatan tersebut (di mana mereka turut berpartisipasi) di blog masing-masing. Setidaknya, dua keuntungan pun dapat diraih dari kegiatan ini. Pertama, kegiatan dapat terlaksana bersama-sama. Kedua, publikasi kegiatan lebih cepat menyebar dalam jaringan yang lebih luas.

3. Menyelenggarakan Kompetisi Blog
Lagi-lagi kegiatan ini turut melibatkan para blogger. Kegiatan ini bermanfaat untuk mendulang ide dari para blogger tentang apa saja hal-hal yang dapat dilakukan untuk konservasi Sumber Daya Air. Apa yang saya lakukan dengan tulisan ini pun, mudah-mudahan bisa menjadi ide yang bermanfaat untuk konservasi Sumber Daya Air.

Yah, cukup sekian dulu tulisan saya tentang konservasi Sumber Daya Air. Mudah-mudahan dapat diaplikasikan dan bermanfaat untuk kebaikan kita bersama.

Dipublikasi di Peserta Lomba | Tinggalkan Komentar